saya sempat baca buku yang sampai saat ini saya masih terngiang-ngiang di otak saya walaupun buku tersebut saya baca waktu saya masih SMP. Judul buku tersebut adalah “Sewindu Dekat Soekarno” oleh Bambang S Widjanarko, buku tersebut menceritakan pengalaman Bambang S Widjanarko sebagai ajudan Soekarno di 8 tahun terakhir masa pemerintahan Soekarno. yang saya suka dari buku ini adalah Bambang sangat objektif menilai soekarno berbeda dengan tulisan Cindy Adam dalam buku “Soekarno My friend” yang unsur subjektifnya sangat kental bahkan kontroversial. Dari buku tersebut saya dapat menilai kepribadian soekarno walaupun mungkin terlalu dangkal karena memang kepribadian seseorang itu sangat luas apalagi orang sebesar Soekarno. Berikut kepribadian Soekarno yang saya tangkap dari buku tersebut: 1. Rapi, penampilan itu penting Soekarno sangat memperhatikan penampilannya di depan publik, dari jenis pakaian, posisi dasi, warna, rambut dan lain. dan Soekarno juga menuntut orang-orang sekitarnya agar rapi. Bahkan menurut buku tersebut di Istana Merdeka disimpan kaca yang cukup besar sehingga para tamu sebelum masuk Istana dapat melihat penampilannya sendiri sebelum bertemu presiden. selain itu Soekarno secara rutin berlatih penampilannya di depan kaca di kamarnya, memperhatikan setiap detail penampilannya dan suaranya. dari sudut pandang saya: penampilan itu penting, kharisma seseorang tergambarkan langsung oleh penampilan, mungkin ada orang bilang jangan menilai orang dari penampilan akan tetapi sebelum mengenal lebih jauh orang akan menilai terlebih dahulu penampilan luarnya. baru beberapa hari lalu saya melihat tayangan tentang kharisma pemimpin dunia yang sangat erat berhubungan dengan penampilan sang pemimpin. Pelajaran yang dipetik: saya sering liat mahasiswa yang terlhat kumal, dekil, lalu orang dengan gampang menilai oh pasti aktivis mahasiswa karena saking seringnya demo. Bagi saya seharusnya yang terlihat yang namanya aktivis mahasiswa terlihat necis, memperlihatkan intelektualitasnya dll. coba cek buku sejarah anda, lihat mahasiswa indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan semuanya necis. 2. Mengedepankan logika berpikir Berbeda dengan anggapan orang banyak yang banyak menghubungkan Soekarno dengan tahayul dll. Soekarno benar-benar orang yang berpikir logis. Suatu ketika Soekarno didatangi orang yang mengaku “Sakti”, orang tersebut menawarkan keris yang dianggap bertuah dengan imbalan mobil. kebetulan saat itu Jakarta sedang mengalami musim kemarau yang mengakibatkan rumput di depan istana mengering. Soekarno kemudian meminta kepada orang itu jika benar keris itu sakti maka dimintakan agar didatangkan hujan sehingga rumput istana dapat kembali hijau, jika bisa dilakukan maka nanti diberi mobil. kemudian orang tersebut pergi dan tak pernah kembali. dan hujan yang ditunggu tidak juga datang. kasus kedua adalah ketika Soekarno ke taman istana bogor dan disitu ada patung tua beliau berkata kepada Bambang bahwa patung tersebut merupakan patung keramat yang bertuah yang dulunya banyak disembah2. Bambang balik bertanya apakah beliau mempercayainya, Soekarno menjawab patung itu mungkin bertuah jika semua orang meyakini benda itu bertuah, patung itu hanya batu biasa hanya karena orang banyak meyakininya lah maka bertuah. dari sudut pandang saya: Dari semenjak kecil saya sering diceritakan hal-hal magis dan tahayul ketika bercerita tentang soekarno dan dari buku tersebut maka saya mendapat pelaaran penting bagaimana Soekarno sendiri terlihat tidak antusias dengan dengan hal berbau mistik yang banyak menghinggapi bangsa indonesia saat itu. Pelajaran: parahnya saat ini hal-hal mistis sepertinya diberdayakan dalam masyarakat.. lihatlah tayangan sinetron pertelevisian, beragam SMS-SMS mistis yang lucunya cukup laris, yang mengakibatkan masyarakat berpikir sangat dangkal dalam melihat banyak permasalahan. 3. Hormatilah pemimpin Soekarno selalu meminta ajudannya untuk selalu menghormati pemimpin negara lain atau perwakilan negara lain dengan perkataan your honor, your excelencies, your majesty. bahkan Soekarno sendiri sering disebut dengan embel-embel Paduka yang Mulia. dari sudut pandang saya: Soekarno bukan orang yang gila hormat, tetapi beliau menyadari jika pemimpin itu mewakili orang yang dipimpinnya.. artinya jika kita menghormati pemimpin yang kita hormati adalah jutaan orang yang diwakilinya. Bush walaupun diakhir masa jabatannya tidak populer tetapi bangsa amerika tetap menghormati Bush, setiap Presiden Amerika memasuki ruangan berkumandang lagu kebangsaan amerika dan setiap orang berdiri dalam ruang. Pelajaran: saat ini semenjak reformasi, banyak orang mengartikan kebebasan mutlak tanpa tata krama. Walaupun pemimpin ataupun mantan pemimpin kita sangat benci atau tidak sesuai dengan keinginan kita.. kita harus tetap menghormati mereka karena mereka adalah perwakilan bangsa kita. tidak jarang malah orang mencemooh pemimpin mereka sendiri. kalo pemimpinnya sendiri dicemooh apalagi orang lain? yang lebih parah adalah acara televisi yang menertawakan pemimpin kita sendiri. 4.bangga terhadap bangsanya Soekarno pernah menegur para pejabat pemerintah pusat yang menggunakan pakaian daerah, bagi dia setiap orang yang berada di pemerintahnya harus mewakili pemerintahaan nasional. beliau juga sering menari lenso sebagai ganti tarian-tarian barat, bagi dia lenso juga mampu bersaing dengan tarian barat. bahkan di luar negeri pun Soekarno meminta ajudan dan pengawal presiden untuk bermain band untuk mengiringi beliau menari lenso. dari sudut pandang saya. Soekarno seringkali membuat proyek-proyek prestisius bertujuan untuk memperihatkan bahwa bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. tidak hanya bangunan besar tapi soekarno juga memperlihatkan bahwa kebudayaan Indonesia mampu mempengaruhi dunia. angkatan perang kita juga termasuk yang disegani dunia. tujuannya adalah memupuk rasa kebanggaan terhadap bangsa kita membangun jati diri bangsa. membuat kepercayaan diri bangsa yang sudah terlalu lama dijajah bahwa kita mampu berbuat yang terbaik. Pelajaran: sekarang ini rasa kebanggaan kita terhadap bangsa Indonesia sangat rendah, bagaimana kedaulatan kita dinodai, orang-orang kita dicemooh dan lain-lain. dan lebih parah lagi bangsa kita sendiri yang mengolok-ngolok bangsanya sendiri. sudah saatnya kita harus bangga dengan bangsa kita dan kita mampu. 5.Mencintai seni Soekarno adalah pecinta seni,koleksi lukisannya mencapai ribuan dan tersebar di istananya belum termasuk karya seni lainnya. Beliu juga menghargai seniman bahkan pada saat banyak seniman dipenjara beliau pernah berkata ” insinyur yang baik bisa dicetak ribuan dalam setahun tetapi kalau seniman yang baik bisa jadi hanya akan ada satu dalam seratus tahun” beliau juga sangat romantis dan tahu bagaimana memperlakukan wanita. pernah beliau menulis surat kepada Ibu Dewi Soekarno ketika akan bepergian ke luar negeri. beliau menutup surat tersebut kurang lebih seperti ini “here i give to you parfume, dollar and of course my love”. dari sudut pandang saya: Soekarno adalah pecinta seni, bagi beliau wanita sendiri adalah seni tersendiri. beliau memperlakukan wanita dengan hormat dan tidak jarang wanita sendiri tersentuh dengan romatisme beliau. Pelajaran: apakah kita menghargai seni? di luar negeri orang-orang terpelajar merasa bahagia jika mendapatkan tiket opera, galeri seni tidak pernah sepi, musik berkembang, seniman bisa hidup layak. seni adalah kreatifitas sesuatu yang sulit untuk dipelajari. bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai hasil karya seni yang dihasilkan bangsa tersebut sebagai bentuk kebudayaan bangsa tersebut. seni adalah salah satu bentuk kekayaan bangsa. Mengapa saya membuat artikel ini. tujuannya hanya satu Soekarno telah memberikan contoh bagaimana seorang gentleman, beliau menginginkan jati diri bangsa Indonesia dibentuk agar sejajar dengan bangsa lain di dunia. penduduk kita saat ini mencapai 220 juta, merupakan penduduk terbesar ke 4 dunia. tapi masih banyak bangsa lain memandang rendah bahkan tidak mengenal bangsa kita. berbeda dengan Cina, india, inggris dll. apanya yang kurang dari kita sehingga bangsa kita menjadi bangsa marjinal. bahkan jika ditanya kepada bangsa amerika mereka lebih mengenal bangsa Philipina dibandingkan dengan indonesia. kekayaan alam hebat, jumlah penduduk banyak, kepintaran bangsa kita diakui, kebudayaan setempat yang tak ada duanya. jadi saatnya mengenadahkan kepala kita dan berkata “Kami bangga menjadi bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia”. dengan pembangunan karakter bangsa maka kita dapat menjadi bangsa yang maju.

World Class University

December 13, 2008

mungkin isu ini agak2 telat untuk dibahas, saya baru ngeh ketika berdiskusi dengan teman-teman betapa mengerikannya jika ini terjadi dan tak hentinya menggelitik saya untuk membuat tulisan ini.

saya teringat isu yang diberikan pak Gede Raka pada saat saya mengikuti kuliah manajemen inovasi, pak Raka berkata kurang lebih seperti ini:

ketika terjadi normalisasi kehidupan kampus tahun 70an, ketika organisasi kemahasiswaan dilebur, maka pak Raka sempat bertemu dengan salah satu pejabat tinggi di Indonesia, pak Raka memperingatkan dampak yang akan terjadi akibat normalisasi ini adalah tidak akan terasa satu-atau dua tahun lagi tetapi akan terasa sampai 20-30 tahun lagi.

bahaya dari normalisasi kampus adalah akan mematikan kepemimpinan sipil, beliau pada saat itu memprediksi sipil akan sulit untuk memerintah negeri ini, berbeda dengan ABRI saat itu yang memang generasi mudanya dilatih jiwa kepemimpinnya.. dan kenyataannya saat ini seperti itu. tiga kepemimpinan sipil (habibi, gusdur,dan megawati) kita semua berlangsung gagal, setidaknya dilihat dari masa kerjanya tak ada satupun yang mencapai lima tahun. sosok milier yang memang dilatih kepemimpinan akhirnnya memang sangat baik untuk memimpin negara ini.

hal ini saya khawatirkan kembali terjadi di masa datang, bayangkan kemahasiswaan di ITB sekarang seperti yang riuh rendah, OS atau yang di MTI disebut PPAB (proses penerimaan anggota baru) dilarang. kenapa PPAB ini perlu, pertama organisasi kemahasiswaan adalah organisasi yang dinamis, keanggotaan hanya berlangsung 3-5 tahun, banyak hal yang masuk dan keluar.. tujuan PPAB adalah memperkenalkan tujuan berorganisasi, program2 dalam organisasi, mempererat hubungan anggota, melanjutkan program-program jangka panjang kepada anggota baru dll.. dan bagaimana hal itu dapat terlaksana dalam waktu yang sangat singkat dan melekat jika tidak  melalu proses yang direncanakan dan intens.

PPAB organisasi kemahasiswaan di ITB berbeda dengan perguruan tinggi lainnya, ia tidak bersifat perloncoan, tidak ada sifat main-main yang tidak bermakna dll.. sebagai contoh, salah satu hasil akhir kenapa suatu anggota diterima di MTI adalah ketika si calon anggota berhasil mengkoordinasi sebuah acara yang bersifat masif dan bermanfaat kepada masyarakat sekitar, contohnya waktu kami adalah membuat acara kampus untuk korban banjir, melakukan perbaikan bangun sekolah dasar, dll.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt; font-family:”Verdana”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1962759429; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1348459426 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}
Times Higher Education – QS World University Rankingsadalah pemeringkat universitas kelas dunia, QS menyatakan bahwa salah satu ciri dari universitas kelas dunia adalah kesiapkerjaan dari lulusan (graduate employability), menurut QS graduate employability itu seperti ini:

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt; font-family:”Verdana”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

“Tidak semua siswa melihat diri sendiri menjadi akademisi. Sebagian besar, bahkan banyak yang mencari pekerjaan di luar akademis. Sebagai contoh universitas yang kaya menawarkan lebih dari sekedar pengalaman di kelas, tetapi juga terdapat klub, kelompok lobi, asosiasi internasional, organisasi sukarela, klub olahraga dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat diikuti. Dan hal tersebut diperkuat dengan adanya lingkungan di universitas dimana terdapat beberapa ribu orang asing yang Saling bertemu dan berinteraksi dengan banyak siswa dan ‘pengalaman pertama yang independen dan jauh dari rumah. Kesiapan kerja lulusan berbicara lebih dari kekuatan akademis tetapi juga tentang kemampuan untuk bekerja secara efektif dalam tim multi-budaya, untuk memberikan presentasi, untuk mengelola orang dan proyek.”

Bagi saya, ini saya selalu ceritakan terus kepada orang2, MTI (keluarga mahasiswa teknik industri) adalah Lab TI yang keenam selain lima Lab formal lainnya, disini saya banyak belajar softskill yaitu leadership, communication/interpersonal, project management, creativity.. dan ini menurut <!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt; font-family:”Verdana”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}
penelitian yang dilakukan oleh Janet Mitchel dan Fred Evers dari Educational Research and Development Unit University of Guelph merupakan essential skill siswa yang mutlak diperlukan untuk menghadapi abad 21. bayangkan sebuah lab gratisan dan dikerjakan oleh mahasiswa sendiri, untuk mahasiswa sendiri dan masyarakat tak ada satupun duit ITB masuk kehimpunan.. himpunan bukan gerombolan anak-anak yang nongkrong di samping jalan dia ada tujuan utama yang ingin dicapai, dia mempunyai tujuan yang memang indah.



v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt; font-family:”Verdana”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}
<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

saya rindu dimasa pak Kusmayanto duduk bersila dilantai memaparkan visi misinya jika terpilih menjadi rektor ITB di ruangan KM ITB, saya rindu ketika beliau ikut mengawasi jalannya OS terpusat, saya rindu ketika ketua jurusan saya saat  itu bersama dosen lainnya ikut serta mengawasi kegiatan “swasta” yang kami adakan. saya rindu ketika 2 angkatan saya keatas dan 2 angkatan saya kebawah mengenali saya dan saya mengenali mereka.

pengalaman berorganisasi bagi saya merupakan value added selain hal akademis formal yang saya terima, yang mungkin merupakan aktivitas yang memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan lulusan lainnya.

masalah nama memang menjengkelkan, “apalah artinya sebuah nama” kata shakespere tidak berlaku bagi kami.

bayangkan bagi kami yang merupakan asisten Studio Manajemen (salah satu lab di Teknik industri)… tau-tau nama papan lab kami pas liburan berubah menjadi Laboratorium Inovasi dan Pengembangan Organisasi (LIPO)..

saya pun terheran2 apa maksudnya? apakah di Teknik industri hanya mempelajari Inovasi dan Organisasi saja?? padahal pada saat yang sama saya belajar ilmu manajemen lainnya seperti keuangan, SDM dan pemasaran..

saya baru tau kemudian ketika mendapatkan penjelasan dari ketua lab kami, bahwa Teknik Industri harus menghindari kata2 manajemen dalam lab dan kurikulumnya. (mungkin strategi diferensiasi: kan gak ada bedanya Paket Kilat Khusus dan Paket Kilat Express (cuman beda harga)) . Contoh lainnya adalah mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia diubah menjadi Sistem Sumber Daya Manusia.

Lab kami pun menjadi sedikit sepi karena memang dosen2 aktif di SM TI, tidak sedikit yang beralih ke SBM. kamipun sedikit diarahkan kembali ke arah engineering walaupun spirit manajemen masih nampak (toh kuliah manajemen inovasi, keuangan dan pemasaran merupakan mata kuliah pilihan favorit). TI tetep merupakan IPSnya ITB atau IPAnya UNPAD (saya bangga dengan kata2 ini).

tapi pertanyaan berikutnya? kenapa ITB gak diganti menjadi UTB, Universitas Teknologi Bandung saja kayaknya lebih fair, sehingga kedepannya bisa jadi karena demand pasar ada sekolah hukum di ITB.

saya juga usul agar mengganti lirik di mars ITB
“Kajilah ilmu dan teknologi
seni dan budaya bangsa
Kukuhkan sikapmu dan tekadmu mandiri
capai masa gemilang” menjadi

“kajilah ilmu dan teknologi,
seni, manajemen, hukum dan lain2 bangsa
Kukuhkan sikapmu dan tekadmu mandiri
capai masa gemilang”

setidaknya dengan demikian ada keikhlasan di diri kita dan berhenti menggunakan istilah “ITB CORET”

Jawaban Kusmayanto Kadiman:

Kawan-kawan,

Tak akan pernah bosan saya untuk kembali berbagi cerita tentang upaya
mencari dan menyelaraskan makna TEKNOLOGI, khususnya yang tertera dalam
logotype ITB, T = Teknologi. Walaupun pembaca milis ini telah berulang
kali mendengarnya.

Dalam kesempatan monolog di acara Medco Knowledge Gathering, minggu lalu
di Jakarta dan Sabtu malam di AulaBarat ITB (yang dihadiri oleh 3 pasang
kandidat Presiden KM_ITB dan Perwakilan Mhs di MWA_ITB) lagi-lagi saya
sampaikan isu seputar teknologi ini.

Mari kita definisikan teknologi sebagai paduan sempurna dari sains,
enjiniring, seni dan ekonomi. “Lets define technology as a perfect
fusion of science, engineering, arts and economics”.

NB. Telepon genggam adalah alat bantu favorit saya dalam menjelaskan
tentang definisi diatas.

Jika kita gunakan pengertian luas dari kata seni dan ekonomi dalam
definisi diatas maka kekhawatiran dan tudingan ITB Coret tidak akan ada.

Perubahan-perubahan berkesinambungan menuju tingkat kesempurnaan tentu
musti terus dilakukan. Contoh: Pembukaan program studi baru serta
penutupan program studi yang ada hendaknya dijadikan ukuran kinerja.
Bahkan saya pernah meminjam dua jargon di dunia korporasi (swasat,
industri & jasa) untuk diterapkan dalam perbaikan dalam kampus: Merger &
Acquisition.

Kembali ke penamaan SBM, melalui perjuangan panjang akhirnya ITB kembali
menjadi pelopor dengan mendirikan Sekolah Bisnis dan Manajemen
(disingkat SBM agar lebih mudah ditulis,leih enak didengar dan untuk
tujuan promosi — bikin penasaran untuk orang ingin tahu). SBM juga
berarti The School of Business and Management.

Quiz: mengapa SBM = Sekolah Bisnis & Manajemen bukannya Sekolah Bisnis
atau Manajemen, .. hayo apa jawabannya?

Jawaban gw selanjutnya

saya sih setuju ada SBM, bagi saya itu adalah ide bisnis yang bagus,
masalahnya sih asal kata “manajemen” itu tidak menjadi monopoli suatu
pihak.. kesannya ada dikotomi antara teknik dan manajemen…

kami yang “banci” (setengah teknik dan setengah manajemen) susah kalo
harus menentukan “kelamin” kami.. bukannya itu jatidiri kami, saya
pernah mendengar salah satu alumni kami berkata, Teknik industri itu
adalah seorang insinyur, objeknya adalah sistem dan toolnya manajemen..

yah mudah2an tahun depan tidak ada STM= sekolah teknik manajemen..
ntar kami harus nama pake nama apalagi??

ehmm jurusan Sastra Mesin kayaknya ide bisnis yang bagus??!!

akhirnya obama menang… ini tulisan gw strategi marketing pemilihan presiden AS yang gw buat buat tugas UTS gw..

Nama : Muhammad Anza

NIM : 29108068

Tugas : Marketing

Dosen : Alugoro

Pemasaran dalam Pemilihan Presiden

Kamis, 4 November 2008 akan menjadi hari pemilihan presiden amerika serikat dijadwalkan berlangsung. Sebanyak 538 electoral vote diperebutkan oleh 2 kandidat presiden AS Barack Obama dari demokrat dan John McCain dari republik. Pemilihan presiden AS merupakan pemilihan yang banyak diamati tidak hanya oleh masyarakat AS tetapi juga oleh masyarakat dunia. Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adidaya di dunia saat ini sangat mempengaruhi situasi berbagai belahan dunia lainnya.

Sistem pemilihan presiden AS berbeda dengan sistem pemilihan presiden Indonesia yang menganut pemilihan langsung presiden (one man one vote). Warga AS yang mempunyai hak pilih memberikan suara kepada seorang Electors. Electors secara teknis bebas untuk memilih presiden yang dia inginkan, tetapi dalam praktisnya seorang electors bersumpah untuk memilih kandidat tertentu dan pemilih memberikan suara kepada electors yang akan memilih presiden dan wakil presiden yang diinginkannya. Sistem diatas merupakan jenis pemilihan presiden tidak langsung.

Walaupun bukan pemilihan presiden secara langsung tetapi pemilih di amerika serikat tetap menentukan siapa presiden mereka. Oleh karena itu berbagai kampanye dilakukan untuk menarik suara agar mereka memilih electors yang berjanji akan memilih salah satu kandidat. Hingga 21 September 2008 jumlah dana kampanye yang digalang oleh kedua kandidat sudah mencapai 1,2 milliar dollar AS. Diluar pemilihan primaries (ada dua pemilihan yaitu primaries dan generals), Barack Obama sudah mengumpulkan 454 juta dolar AS dan McCain sudah mengumpulkan sebanyak 230 Juta dolas AS.[1]

Dengan uang sebanyak miliaran dollar AS, maka banyak hal yang dilakukan oleh kandidat untuk “memasarkan” diri mereka. Memasarkan dalam artian mereka adalah yang paling pantas untuk memimpin AS.

Segmen, Target dan Posisi

Masyarakat Amerika Serikat merupakan masyarakat yang paling beragam di dunia. Warga Amerika Serikat seringkali menganggap negaranya sebagai “melting pot” (pot peleburan), sebuah negara besar yang menampung seluruh imigran dari berbagai belahan dunia untuk kemudian berkolaborasi sebagai warga negara AS tetapi tanpa harus melupakan identitas asal mereka. Kebijakan “melting pot” yang sudah berjalan sepanjang ratusan tahun telah membentuk AS menjadi wajahnya saat ini.

Secara umum ada beberapa segmen karakterisitik dari pemilih di Amerika Serikat yang mempengaruhi jatuhnya pilihan sesorang kepada suatu kandidat antara lain[2]:

  • Jenis Kelamin

Jumlah perempuan pemilih di Amerika Serikat mencapai 52,20% dari keseluruhan pemilih. Dengan adanya kesetaraan gender di A.S perempuan menjadi suatu kekuatan politik yang sangat diperhitungkan. Pada saat pemilihan primaries untuk menentukan kandidat presiden dari Partai Demokrat mengalami pertarungan sengit antara Barack Obama dan Hillary Clinton. Pendukung setia Hillary Clinton sampai saat ini adalah para pemilih wanita yang merasa satu visi dengan Hillary. Hingga kekalahan Hillary dalam primaries, masih banyak pendukung setia wanita yang berniat untuk tidak memilih sebagai bukti kesetiaan. Partai Republik pun memilih Sarah Palin sebagai kandidat wakil presiden mendampingi kandidat John McCain dengan dasar ingin menarik pemilih wanita yang sebelumnya mendukung Hillary Clinton.

  • Jenis Ras

Ras kulit putih masih tetap mendominasi karakterisitik pemilih di A.S. dengan jumlah pemilih sebanyak 82,40%. Pemilih kulit hitam saat ini menjadi kekuatan baru dalam pemilihan presiden AS, jumlah pemilih kulit hitam merupakan terbesar kedua yaitu sebanyak 12,10%. Sisanya adalah pemilih hispanik sebesar 8,6% dan 3,3% keturunan asia. Ras kulit pulit banyak memilih partai republik sebagai partainya sedangkan kulit berwarna banyak mendukung partai demokrat.

  • Kelas Sosial

Kelas sosial mengacu kepada perbedaan hirarki antara kelompok dalam masyarakat. Biasanya individu dikelompokkan dalan kelas-kelas berdasarkan posisi ekonomi dan kesamaan dalam kepentingan ekonomi dan politik dalam sistem stratifikasi.

Dalam buku “Society in Focus yang diterbitkan tahun 2005, sosiologis William Thompson and Joseph Hickey menampilkan model kelas sosial A.S. kedalam 5 kelas yang ditentukan oleh 3 faktor yaitu pendidikan, pendapatan dan jenis pekerjaan. Model ini menjadi acuan saat ini untuk menentukan kelas sosial di A.S., kelas-kelas dalam model tersebut antara lain:

· Kelas Atas (Upper class), (diperkirakan 1%-5% dari populasi) adalah individu yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dan institusi politik. 1% teratas memiliki pendapatan melebihi angka USD 250.000 dan 5% memiliki pendapatan diatas USD 140.000 per tahun. Kelompok ini memiliki solidaritas tinggi dan cenderung status kelas diteruskan kepada keturunannya sehingga membentuk kekayaan multi-generasi. Pejabat tinggi pemerintah, Direksi Perusahaan dan pengusaha sukses merupakan anggota dari kelas ini.

· Kelas Menengah Atas (Upper Middle Class)(diperkirakan 15% dari populasi) profesional kerah putih dengan tingkat pendidikan tinggi diatas sarjana seperti dokter, professor, pengacara dan eksekutif profesional. Dengan pendapatan diatas 6 digit.

· Kelas menengah bawah (Lower Middle Class), (diperkirakan 33% dari populasi) Individu yang memiliki tingkat pendidikan hingga tingkat sarjana arau kolej. Guru sekolah, penjual, manajemen tingkat bawah merupakan contoh anggota kelompok ini. Pendapatan umumnya berada antara USD 30.000 hingga USD 70.000.

· Kelas Pekerja (Working Class), (diperkirakan mencapai 30%) Individu yang berkerja sebagai tenaga klerik atau staf. Kepastian kerja menjadi rendah dalam kelas ini juag kemungkinan tidak memiliki asuransi kesehatan. Pendapatan umumnya berada antara USD16.000 hingga USD 30.000.

· Kelas Bawah, Individu yang sering mengalami pengangguran, bekerja pada berbagai pekerjaan paruh waktu. Banyak keluarga berada di garis kemiskinan dari waktu ke waktu ketika kesempatan bekerja menjadi langka

Dari karakteristik-karakteristik tersebut membentuk segmen-segmen pemilih yang kemudian dibidik oleh kandidat presiden. Arah-arah kebijakan dan citra kandidat disesuaikan dengan segmen yang akan dibidik. Kadang-kadang kebijakan atau citra sering kali bertolak antar kepentingan kelas, kandidat terbaik adalah kandidat yang dapat merangkul sebanyak mungkin kelas atau karakteristik pemilih lainnya.

Branding

Teknik Branding membantu kandidat memperkuat pesan kepada pemilih mengenai kebijakan dan memperlihatkan kedekatan figur mereka dengan pemilih.

Pada tahun pemilihan persiden A.S. 2008 Barack Obama banyak memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu dengan moto yang banyak didengungkan yaitu “Change We Can Believe In” (Perubahan yang kita dapat percaya)”. Dengan citra pembaharu Obama mencoba menjawab kebutuhan masyarakat A.S. akan keinginan adanya perubahan kebijakan yang berbeda dengan pemerintahan George W. Bush yang dianggap gagal.

Kampanye Obama

Barack Obama juga memperlihatkan dirinya sebagai orang imigran yang berhasil mencapai “American Dream” (mimpi amerika), kelas menengah dengan tingkat pendidikan tinggi. Pasangannya Joe Biden memperlihatkan dirinya sebagai bagian dari kelas menengah A.S. yang telah berpengalaman dalam senat. Ini dilakukan untuk menghadang tudingan bahwa Barack Obama sebagai senator untuk periode pertama kalinya disangsikan bisa memimpin A.S. Citra imigran Barack Obama bisa menjadi keunggulan tetapi juga bisa menjadi bumerang. Berkali-kali kubu McCain menyerang Obama yang memiliki nama tengah Husein sebagai teroris dan tidak patriotik.

Posisi McCain agak sulit karena McCain merupakan kandidat dari Partai Republik, partai incumbent. Pada awal kampanye, McCain berusaha menjauhkan dirinya dari citra kedekatan dirinya dengan George W. Bush. Sama-sama mengusung tema perubahan, McCain di awal kampanye banyak mengkritik kebijakan Bush. Di akhir kampanye, strategi kampanye McCain berubah. McCain memposisikan dirinya sebagai orang yang berpengalaman dan patriotik. Dengan moto “Country First” (Negara Lebih Dulu) mempelihatkan bahwa John McCain adalah sosok bipartisan yang telah mengabdi pada negara sejak lama.

Kampanye McCain

Sarah Palin sebagai kandidat wakil presiden pendamping John McCain mencitrakan dirinya sebagai “Hockey Mom” (ibu seorang anak pemain hoki) seorang sosok yang identik dengan kelas menengah bawah dan pekerja. Palin juga membidik pemilih perempuan yang sebelumnya memilih Hilary Clinton yang dikalahkan Obama. Strategi ini sempat meningkatkan peringkat polling John McCain akan tetapi kemudian menurun lagi akibat ketidakmampuan Palin dalam menjawab isu luar negeri dan ekonomi.

Adamson penulis blog brandsimple membandingkan brand citra kandidat dengan merek-merek dagang terkenal. Menurut adamson dia percaya McCain bisa diperbandingkan dengan merek softdrink Coca-Cola. Citra yang dicoba dibentuk adalah “sudah terbukti, tentang amerika, keaslian, patriotik, berpengalaman dan pahlawan perang” dengan inti pesannya adalah dia telah ada disana dan telah banyak melakukan hal. Sedangkan Obama jika dibandingkan akan seperti “Pepsi-Cola,” yang diasosiasikan dengan “pilihan dari generasi baru, lebih ke produk penantang yang mencoba untuk mengubah sesuatu,”

Adamson menulis bahwa “Aturan yang paling penting dalam membangun merek yang sukses adalah untuk membangun sesuatu yang kamu ingin wakili dalam pikiran konsumer dan konsisten terhadapnya”. Sebagai persiapan untuk minggu terakhir kampanye 2008 menurut Adamson, “mereka harus melakukan apapun yang dimungkinkan untuk tetap menerapkan citra yang sejak awal sudah didengungkan.”[3]

Brand Image

Pemilihan Presiden Indonesia

Membangun citra melalui branding adalah hal yang harus dilakukan oleh kandidat presiden Indonesia. Masing masing presiden harus dapat memposisikan dirinya dengan pesan kuat bahwa dirinya berbeda dengan kandidat lainnya. Tanpa pembedaan yang jelas mengakibatkan pemilih kebingungan untuk memilih presiden karena pemilih tidak melihat perbedaan antar kandidat. Kandidat presiden Indonesia masih terjebak pada kebijakan-kebijakan umum tidak spesifik melekat pada individu. Akhirnya adalah kita melihat keseragaman dari segi iklan yang tidak terlalu jelas dan fokus mengejar target tertentu, jenis kampanye yang hampir sama satu sama lain. Akhirnya pemilih lebih memilih berdasarkan kepartaian yang bersifat kelompok bukan pada individu yang terbaik.

Untuk membangun citra adalah proses panjang dan kandidat harus konsisten terhadap citra yang ingin dibangun. Media yang tepat, penyampaian yang tepat dan berulang-ulang menjadi kunci utama membangun citra kandidat.


[1] Informasi mengenai keuangan politik dapat dilihat di www.opensecret.org, dibawah The Center of Responsive Politics sebuah grup riset yang sudah 25 tahun bediri untuk melacak dana dalam politik amerika serikat dan akibatnya terhadap pemilu dan kebijakan publik.

[2] Informasi mengenai karakteristik pemilih didapatkan dari Current Population Survey (CPS) untuk keperluan pemilihan presiden dan anggota kongres di bulan November 2008. Informasi lengkap dapat dilihat di www.census.gov situs resmi Biro Sensus A.S. (U.S. Census Bureau)

[3] Adamson, Allen; penulis blog www.brandsimple.com banyak melakukan penelitian tentang merek.